FF- Wolf and The Beauty (Chapter 1)


Judul      : Wolf and The Beauty
Author : _Byun Hyunni_
Cast                 : -   Kim Jong In (EXO)
-          Lee Min Jung (OC)
-          Park Seul Rin (OC)
-          Park Se Yung (OC)
Genre  : Romance, Angst, Sad, Fantasy
Length : Chaptered
Rating : PG
Disclaimer       : Alur cerita murni dari pemikiran labil author -..- jadi jangan meng co-pas ff author tanpa izin

WARNING : Typo dimana-mana, jika ada kata-kata yang gaje, mohon dimaklumin, karena Author juga gaje :v
           
                Malam ini sangat sunyi dan juga dingin yang menusuk kulit. Tapi tidak bisa menusuk kulitku yang dipenuhi bulu yang lebat dan berwarna cokelat keemasan. Aku terus berlari menyelamatkan diri dari gelapnya hutan ini menuju cahaya bulan purnama yang terang. Terus.... berlari sekencang-kencangnya. Melewati satu persatu deretan pohon tinggi nan besar. Kulihat ada seberkas cahaya di depanku, yang semakin mendekat kearahku. Aku menambah kecepatan lariku. Cahaya itu semakin terang. Dan SREETT! Aku berhenti dan mengeluarkan lolongan yang panjang. AWOOOOOO!


                PRIIIT!
“okay! Masuk! Assa!” teriakku dan ber high-five dengan temanku se-tim ku.
“hwaiting!” pekikku lagi memberi bola dengan semangat. Aku berlari, mengoper bola, menerima bola, lalu mendribblenya. Lalu aku melompat untuk memasukkan bola dan..... Masuk! Aku berhasil melakukan Slam Dunk. Dan pada saat kakiku menapakkan dirinya di tanah, seketika juga kakiku keseleo dan limbung. Tiba-tiba SREETT!! Seorang cowok datang entah dari mana dan menangkapku yang hampir jatuh.
“ups!” ucapnya pendek dan berhasil mendekapku yang artinya aku selamat dari peristiwa jatuh karena keseleo yang memalukan.
“oh, gomawo!” ucapku berterima kasih lalu melepaskan diri dari dekapannya. Aku berdiri membenahi diriku dari dekapan seorang cowok.
“ne,cheonmane yo” jawabnya lalu tersenyum. Cowok ini sama seperti cowok lainnya, tetapi jika diperhatikan lebih seksama, dia terlihat berbeda. Kulit cowok ini agak pucat, rambutnya berwarna cokelat keemasan, dan… entah aku salah lihat atau apa, gigi taringnya terlihat agak panjang dan runcing.
“aw!” tanpa kusadari,aku merintih merasakan sakit di kaki ku.
“oh, kau keseleo? Kalau begitu, kuantar kau ke klinik sekolah. Kajja” tawarnya lalu menggandengku menuju klinik sekolah.
“Seulrin-ah! Aku ke klinik dulu! Kalian main saja!” teriakku kepada yeoja berbaju basket dan rambut yang di ikat ekor kuda sama sepertiku.
“ne!” jawabnya cepat.
                Oh ya, namaku Lee Min Jung, kelas 1 di CheongWan High School. Seorang calon atlet basket profesional. Rambut panjang sepinggang, berwarna cokelat tua, mataku agak besar dan tidak seperti kebanyakan orang korea lainnya.
Dan pada saat aku bermain basket tadi, tepatnya saat melakukan slam dunk, kaki ku keseleo dan akhirnya bertemu dengan lelaki aneh yang sekarang sedang menggandengku menuju klinik sekolah. Aku tidak pernah mengenalnya.
Di dalam klinik sekolah, kami duduk berhadapan, ia yang membalutkan perban ke pergelangan kaki ku. Dia memaksa, jadi aku tidak bisa membantah.
“ya! Namamu siapa? Kau baru ya disini?” tanyaku sementara dia melilitkan perban di pergelangan kaki ku. Tapi dia tidak langsung menjawabnya, dia terus membalutkan perban di kaki ku. Setelah selesai, ia mengangkat wajahnya dengan perlahan. Aku jadi bergidik ketakutan melihatnya
“kau mau tau namaku?” ucapnya dengan ujung bibirnya terangkat. Aku jadi tambah takut. Dia lalu berdiri, menundukkan wajahnya menatapku, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Masih dengan senyuman di bibirnya, ia makin mendekatkan wajahnya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memundurkan kepalaku dengan raut wajah yang pasti kelihatan aneh.
CHU
Bibirnya tiba-tiba saja menyetuh bibirku. Mataku terbelalak, lalu tanpa sadar mendorongnya.
“mwoya!” teriakku. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya lalu memamerkan deretan giginya.
“kau terasa sangat manis” ujarnya sambil mengangkat daguku dengan telunjuknya. Kurasakan  darahku berdesir dari seluruh badanku dan naik berkumpul di kepalaku. Pasti wajahku sekarang sudah seperti kepiting rebus.
PLAKK!
Aku menamparnya lalu berlari keluar klinik dengan wajah masih seperti kepiting rebus.
“selamat pagi” ucapku dan berjalan masuk ke kelasku dengan langkah sempoyongan.
“selamat pagi.” Jawab seisi kelasku.
“kaki mu sudah baikan, Minjung-ah? Tanya Seulrin
“ne. kau tau cowok yang tadi menolongku?” tanyaku mengharapkan jawaban yang positif.
“eung, aku tidak pernah melihatnya,” jawaban negatif Seulrin membuatku sedikit kecewa.
TREK
“permisi”
Pintu kelasku terbuka dan seseorang, ah bukan, ada dua orang yang berjalan memasuki kelasku.
“selamat pagi! Murid-murid!” teriak Kim Seonsaengnim di depan kelas. Dia memasuki kelas diikuti oleh seorang namja yang sebaya dengan kami.
“baiklah, silahkan memperkenalkan diri” perintah Kim Seonsaengnim.
Cowok itu mengangkat kepalanya. Aku seperti pernah melihatnya. Saat ia menaikkan ujung bibirnya, mataku melotot. Nafasku seakan-akan berhenti.
“jeo ireumeun Kim Jongin imnida. Pindahan dari pulau PuYi di barat Seoul.” Ujarnya memperkenalkn diri.
Setelah mendengar perkenalan dirinya, aku cemberut.
cih, apa sih susahnya memberitahu namanya, malah menciumku, eish!” gumamku mengingat dia yang sudah mencuri first kiss ku.
eung, PuYi? Memangnya ada ya pulau PuYi?” pikirku.
“baiklah, kau duduk di…” belum sempat Kim seonsaengnim melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Jongin sudah duduk di sampingku entah sejak kapan.
“aku duduk di sini” ujar Jongin dengan senyum misteriusnya. Kim seonsaengnim hanya mengiyakan dan keluar dari kelas.
“mwo!? Siapa yang mengizinkan kau duduk di situ eoh?”  protesku.
“ya, kau yang tadi pagi kan?” tanya Jongin.
Cih, berani-beraninya dia mengajakku bicara setelah mencuri first kiss ku” gumamku tanpa menoleh sedikit pun.
“ya! Neo! Jangan ganggu dia!” bentak Seulrin yang menghampiri kami.
“aah, mungkin… kau masih marah dengan ciuman tadi?” bisik Jongin
“UMPH!” Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku dan menyeretnya keluar kelas sebelum Seulrin –yang kelihatannya mendengarnya- bertanya lebih lajut.
“Seulrin-ah! Sepertinya murid baru ini ingin berkeliling sekolah dulu! Aku antar dia dulu ya!” teriakku.
“o..oh.. ne!” jawab Seulrin pendek.
-----------
“kau bisa diam tidak sih!” bentakku dengan nada kesal.
“memangnya kenapa?” tanyanya sok polos.
“ish! Dasar! Kau itu sudah mencuri first kiss ku!” suaraku semakin mengeras. Beruntung kami sedang di halaman belakang sekolah yang jarang dikunjungi siswa lain. Jadi tidah ada yang mendengar kami.
“ooh, masalah ciuman tadi… kau menganggapnya? Itu Cuma ciuman biasa, tanpa perasaan sama sekali. Jadi jebal kau santai saja.” Ucapnya dengan nada tidak peduli, bahkan tanpa rasa bersalah. Lalu ia kembali menunjukkan senyumnya yang sekarang kusebut evil smile itu.
“kau sangat menarik” ucapnya dengan nada  byuntae lalu berlalu dari hadapanku. Aku tertunduk, diam. Menarik? Apa maksudnya?
“ya!” aku berteriak memanggilnya. Tapi lagi-lagi dia sudah menghilang entah sejak kapan. Menganggap? Tentu saja aku menganggapnya! Itu first kiss ku! Bisa-bisanya dia bicara sesantai itu! Ok, sepertinya mulai hari ini aku akan memberinya cap bertuliskan ‘DANGER’ di jidatnya. Dia sangat berbahaya. Seperti seekor Serigala yang mengincar mangsanya. Aigoo.. aku jadi merinding.
--------
TEEETT
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Aku segera membereskan buku-buku ku yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas.
“ya! Minjung! Pulang sama-sama ya” panggil seseorang yang ternyatasi cowok ‘danger’ itu.
“wae? Kau takut pulang sendirian eoh?” ejekku.
“eyy, ayolah” desaknya
Ugh, ternyata manusia macam dia bisa aegyo juga.
“baiklah, tapi aku pulangnya naik bus. Jadi mau tidak mau kau harus ke halte bus dulu bersamaku” jawabku agak terpaksa.
“ok! Kajja!” ujarnya.
“kajja” ucapku seraya memakai almamater biru muda ku yang sangat serasi dengan rok hitam rempel selututku. Lalu aku mengikat rambutku, menggandeng tasku, dan keluar dari kelas.
----------
“jadi, kenapa kau pindah sekolah?” aku membuka pembicaraan.
“ah, karena pekerjaan appa ku” jawabnya singkat. Obrolan kami tidak berlanjut. Kami berdua sama-sama diam seribu bahasa.
“nah, sudah sampai. Sekarang aku hanya tinggal menunggu bus. Kau pulang sana.” Ujarku agak ketus.
“aku akan menemanimu menunggu bus” ujarnya lembut. Aku samapi terperangah. Suaranya begitu halus dan terkesan tulus, sangat berbeda saat kami pertama kali bertemu. Seketika darahku berdesir memenuhi ruang di kepalaku. Wajahku terasa panas. Mungkin akibat cuaca hari ini. Tapi… entahlah.
“hm! Lihat, bus mu sudah datang” ucapannya membuatku tersadar dari lamunan ku
“ah, ehm.. iya. Aku duluan ya” ucapku dan masuk ke dalam bus.
---------
“eomma! Aku pulang!” teriakku begitu memasuki rumah.
“eoh? Minjung-ah, kau sudah pulang? Kau makan siang dulu. Eomma sudah siapkan nasi goreng kesukaanmu dan kau juga bisa menambahkan kimchi kalau kau mau” ujar ibu ku.
“ne, eomma, aku ganti baju dulu” jawabku lalu berjalan menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarku. Aku lalu menaruh… ehm lebih tepatnya melempar tas dan almamater sekolahku di kasur lalu mengganti baju ku dengan atasan baju kaos putih polos dan rok pendek selutut dan memakai sandal rumah kepala kelinciku.
SKIP
“Minjung-ah, kau tidak keberatan jika jika orang di rumah ini bertambah?” tanya eomma di meja makan.
“memangnya siapa eomma?” tanyaku dengan mulut penuh nasi goreng.
“anak teman eomma dan appa. Untuk sementara, teman appa dan eomma ditugaskan ke New York dan anaknya tidak punya tempat tinggal di Seoul. Boleh?” eomma bertanya sekali lagi.
“terserah eomma. Setelah kupikir-pikir, rumah ini memang terlalu besar untuk kita bertiga. Itupun kalau appa pulang” ujarku sambil terus mengunyah makananku.
“aku selesai makan!” ucapku lalu mencucinya dan menaruhnya di rak piring.
-----------
“aigoo! Aku capek!” ujarku setengah teriak dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Masa bodoh dengan almamater dan tasku.
SKIP
Singkat cerita, aku bangun setalah tidur selama kurang lebih dua jam. Karena lapar. Entah mengapa beberapa bulan terakhir ini aku suka sekali makan.
“eomma? Menunya apa?” tanyaku.
“bibimbap” jawab eommaku.
“salah satu makanan favoritmu kan?” ujar seseorang di belakangku.
“appa!” pekikku setelah melihat appaku berdiri tepat di belakangku. Tanpa basa-basi lagsung aku berikan bear-hug ku. Appaku seorang direktur di sebuah perusahaan korea yang sering keluar kota dan bahkan keluar negeri. Sekarang ini appaku baru saja pulang dari Tokyo.
“appa! Ada oleh-oleh untukku?” ujarku sambil mengeluarkan jurus ampuh ku yaitu aegyo.
“tentu saja appa tidak akan lupa dengan anakku yang cantik ini. Appa belikan asesoris. Kamu suka kan?” jawab appaku.
“uwa! Gomawo appa!” aku memekik senang dan kembali memeluknya.
Yah, meskipun aku kelihatan tomboy karena suka olahraga, terutama basket, tapi sebenarnya aku agak girlish karena suka mengoleksi barang-barang yang imut terutama asesoris. Cuma aku tidak pernah memakainya karena repot kan karena harus bermain basket sambil memaJongin gelang atau kalung?
“Minjung-ah, kau pasti sudah diberitahu oleh eomma mu tentang teman appa kan?” tanya appa tiba-tiba.
“ne, appa. Waeyo?” jawabku pendek.
“dia tingal disini mulai malam ini. Jongin, ayo masuk!” ujar appa memanggil seseorang.
Tunggu….. Jongin??? Hmmm.. jangan-jangan…

TO BE CONTINUED

gimana yeth~? dtunggu kripik dan garamnya yeth~
lanjutan ff nya tergantung respond anda pemirsah~ :3

Comments

Post a Comment

Popular Posts