FF - Wolf and the Beauty (Chapter 3/END)


“itu.. bukankah… suara SERIGALA!?” gumamku pada diri sendiri. Iya, serigala, serigala yang biasa muncul di film-film itu.
                Dengan perasaan campur aduk antara takut dengan penasaran, aku perlahan berjalan menuju jendela kamarku yang menghadap langsung ke beranda kamar ku. Setelah menyibak gorden jendelaku, aku langsung menutup mulutku yang hampir mengeluarkan pekikan keras.
“mwo!?” aku kaget setengah mati setelah melihat ke arah beranda kamar Jongin.
“serigala?” bibirku gemetaran menyebut nama hewan berdarah dingin tersebut. Tidak salah lagi, aku melihat seekor serigala sedang mengadahkan wajah penuh bulunya itu ke arah sinar bulan dan mengeluarkan lolongan panjang.
AWOOO!

Serigala itu lagi-lagi melolong panjang. Tetapi lolongannya kali ini terdengar sedikit aneh. Lolongannya terkesan sedang sedih. Tanpa aku sadari pipiku basah. Air mataku membentuk sungai kecil dan membasahi pipiku. Tangisanku semakin pecah saat aku melihat serigala itu berubah wujud menjadi se sosok lelaki yang sangat aku kenal. Lelaki yang seminggu terakhir ini telah sukses membuatku kesal. Kesal dengan sikapnya, dan raut wajahnya yang selalu menujukkan ekspresi sok cool di depanku. Serigala itu adalah Jongin.

Iya, serigala itu berubah mejadi sosok Jongin yang selama ini membuatku kesal. Kesal dengan segala sifat dan sikapnya, juga kesal karena telah merebut first-kiss ku sekaligus hatiku tanpa aku sadari. Aku tidak peduli kalau dia adalah ‘serigala’. Aku sudah tidak peduli dengan identitas aslinya. Dia telah mencuri hatiku, dia telah merebut segalanya tentang diriku. Aku menyukainya.

Seperti dikendalikan seseorang, tanganku bergerak memutar kenop pintu dan kakiku melangkah keluar kamar menuju beranda. Aku melihat Jongin berbalik ke arahku lalu berjalan mendekati pagar pembatas beranda kami dengan raut wajah gugup. Sementara tagisanku tidak berhenti.

“Jongin-ah… Aku…Kau…” bibirku terasa kaku melihat tatapan merasa bersalahnya itu. Dadaku terasa seperti di tusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Sementara Jongin menundukkan wajahnya. Sepertinya ia benar-benar merasa bersalah.
“Minjung-ah.. kau… melihatnya?” tanya Jongin masih dengan kepala tertunduk.
Kakiku bergerak berjalan mendekati Jongin. Aku terus mendekat sehingga jarak di antara kami hanya beberapa sentimeter. Sementara air mataku terus mengailir, aku memeluk Jongin dengan erat, dengan pagar se paha yang membatasi kami berdua. Perasaan kaget Jongin memudar ketika aku mempererat pelukanku, sambil sesenggukan aku terus memeluk Jongin.
“saranghae..” gumamku dan melepas pelukanku.
“apa yang kau katakan barusan?” tanya Jongin
“ah, bukan apa-apa” bantahku.
Tiba-tiba Jongin mengangkat daguku, mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibirku, untuk kedua kalinya.
“saranghaeyo, nae neukdae”

---------------------

Keesokan paginya adalah hari libur. Jongin dan Minjung berencana jalan-jalan keluar rumah untuk mengisi liburan.
TOK! TOK!
“ya! Jongin-ah! Bangun! Hari ini kau mau jalan kan?” teriakku dan menggedor gedor pintu kamar Jongin.
“hei! Ketoknya satu kali saja! Kau pikir aku tuli hah!? Pabo!” Teriak Jongin keluar dari kamarnya. Dia jelas belum siap.
“kyaah! Kenapa kau tidak memakai baju! Pabo-ya!?” pekikku dan membalikkan badanku.
“ya, maaf, maaf. Kau tunggu di bawah saja. Aku tidak akan lama kok.” Ujar Jongin.
Tak lama kemudian Jongin muncul di hadapanku secara tiba-tiba.
“mwoya!” pekikku kaget.
“hehe, mianhae~ ayo kita pergi” ujarnya meminta maaf lalu menarik lenganku menuju mobil yang terparkir rapi di garasi rumahku.
‘Tapi… kita mau kemana?” tanyaku agak ragu dengan tujuan Jongin.
“kau ikut saja, aku jamin kau akan puas” ujarnya dengan senyum tipis terukir di bibir nya.
“baiklah..” ucapku. 

                Setelah sekitar 20 menit kami di perjalanan, dan setelah melewati lorong-lorong kecil yang hanya muat 1 mobil, kami akhirnya sampai ke tempat tujuan Jongin. Kami berada di tengah-tengah hutan, namanya kalau tidak salah adalah hutan Areum. Kami pun turun dari mobil dan aku mengedarkan pandanganku ke sekitarku.
“hmmm… ini yang kau maksud ‘aku akan puas’? aku sama sekali tidak puas.” Ujarku mengejek Jongin yang berdiri disampingku.
“heh,, ini hanya pintu masuk.. ketika kau sudah berada di dalam, kau akan tercengang” ujarnya percaya diri.
“pintu masuk? Di dalam? Maksudnya bangunan?” tanyaku bodoh. Membuat Jongin mengacak pucuk kepalaku.
“ayo!” ajak Jongin menarik tanganku. Kurasakan kehangatan dari telapak tangan Jongin yang besar dan bahkan dapat menggenggam seluruh tanganku. Darahku berdesir dari seluruh tubuh dan berkumpul di wajahku. Sial, wajahku lagi-lagi memerah.

                Setelah beberapa menit menyusuri jalan setapak yang dipenuhi pohon beranting banyak yang menghalangi pandangan kami, akhirnya kami keluar dari ‘terowongan ranting’ tadi. Yah, setidaknya itu sebutan ku untuk jalanan tadi.
“uwaa! Daebak!!” seruku kagum. Hutan ini memang indah, seperti namanya ‘Areum’. Kami berada di tengah-tengah deretan pohon pinus dengan daun berwarna emas, semak belukar yang berwarna emas, dan juga langit yang berwarna emas.
“sangat indah!!” aku tidak berhenti kagum dengan apa yang kulihat.
“ah, Minjung-ah, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.” Lagi-lagi Jongin menarik tanganku. Ia menarikku sampai berada tepat di depan semak yang menyerupai dinding setinggi sekitar 3 meter.
“Jongin, ini.. jalan buntu kan?” tanyaku hati-hati.
“tidak, ini bukan jalan buntu, melainkan sebuah pintu” ujarnya santai, tidak mempedulikan raut wajahku yang kebingungan. Ketika Jongin mengusap semak itu, aku terperangah kagum. Semak itu bergerak membentuk pintu yang sangat cantik. Ketika aku melewati pintu itu, lagi-lagi aku terkagum-kagum dengan apa yang kulihat. Sebuah taman bunga mawar yang sangat luas. Tanaman mawar itu tumbuh dengan rapi dan lebat. Warnanya juga bermacam-macam.
“jongin-ah, kita ada dimana?” tanyaku penasaran dengan tanaman bunga mawar yang tumbuh dengan rapi.
“sebenarnya tempat ini dan tempat-tempat yang kau lihat sebelumnya adalah tempat yang hanya bisa dimasuki oleh serigala dan kerabat serigala. Atau siapapun yang berhubungan dengan serigala.” Jelasnya sembari berjalan mendekati salah satu tumbuhan mawar yang berwarna biru kehitaman.
“ini adalah eommaku…” ujar Jongin lalu berlutut di depan tumbuhan mawar berwarna biru kehitaman tersebut. Ucapan Jongin tadi membuatku sangat bingung.
“eomma mu??” tanyaku dengan nada yang sangat penasaran sekaligus bingung. Awalnya Jongin agak ragu untuk menjawab.
“setiap manusia serigala yang mati, jasadnya akan berubah menjadi butiran debu dan dikirim ke langit dan digantikan dengan tanaman mawar” jelasnya.
“mwo!??” jadi maksudmu tempat ini… seperti.. makam?” tanyaku.
“bisa dibilang begitu” ujarnya masih dengan kepala tertunduk. Melihat itu, aku ikut berlutut.
“aku turut berduka cita”ujarku.

“ya tuhan. Ternyata makhluk setengah pembunuh berdarah dingin ini bisa menangis juga” ucapku dalam hati. Aku membalik badanku mengahadp Jongin dan memeluknya erat.

SKIP

                Setelah suasan menjadi normal kembali, lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya Jongin menarik tanganku. Kami kembali melewati ‘terowongan ranting’  yang berakhir di ujung tebing. Disini kami bisa melihat hamparan pohon pinus yang berwarna keemasan dan kami juga bisa melihat matahari terbenam. Sejenak kami berdua duduk menikmati pemandangan tersebut.
“eommaku adalah seorang manusia serigala sedangkan appaku adalah manusia biasa, mereka bertemu dan saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Eommaku lalu melahirkanku di malam dimana bulan purnama pertama kali muncul dalam bulan tersebut” Jongin memecah suasana sunyi dengan bercerita tentang keluarganya. Aku hanya bisa memerhatikan ceritanya dengan khusyuk.
“di suku kami, jika seorang manusia serigala berhubungan dengan seorang manusia biasa tanpa perintah tetua suku, maka manusia serigala tersebut akan dicap sebagai pengkhianat sepanjang hidupnya dan sepanjang generasinya.” Jongin berhenti bercerita sejenak, lalu menghembuskan nafas.

“tetua-tetua dari suku kami menyuruh beberapa manusia serigala untuk mengejar dan meghancurkan eommaku. Tapi suruhan itu selalu gagal karena eommaku adalah seorang manusia serigala yang tergolong kuat. Tetapi, kekuatan eommaku sudah mencapai batas ketika suruhan tersebut mendatangi rumah kami untuk kesekian kalinya. Mereka berusaha membunuh kami bertiga. Saat itu aku berusia tiga tahun. Eommaku berhasil membunuh hampir semua suruhan tersebut. Saat itu tertinggal dua suruhan lagi. Satu dari dibunuh oleh eommaku dengan mengorbankan dirinya sendiri. Tapi sebelum eommaku mati, dia sempat mencuci otak suruhan tersebut sehingga suruhan tersebut hanya akan mengatakan kalau kami semua sudah mati kepada para tetua. Itu eommaku lakukan agar aku dan appa dapat hidup dengan aman.” Sambung Jongin panjang lebar. Aku merasa sedikit iba karena Jongin menceritakanya dengan sangat emosional. Seakan aku lah yang pernah mengalaminya. 

                Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di kepalaku.
“Jongin-ah, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku.
“ya, tentu saja boleh” jawabnya pendek.
“waktu kita di makam eomma mu tadi, warna mawarnya sedikit berbeda dengan warna mawar lain. Kelihatan sedikit… gelap..kenapa?” tanyaku.
“ah… itu sebagai tanda bahwa dia pengkhianat…” ujar Jongin seperti berbisik.
“tapi, aku suka warnanya! “ ujarku berusaha memperbaiki suasana hati Jongin. Dan kelihatannya itu berhasil.
CHU~
Lagi-lagi dia menciumku.

------------------

                Sinar matahari pagi yang menebus gorden kamarku membangunkanku dari tidur nyenyakku. Aku tentu tidak akan bermalas-malasan hari ini meskipun hari ini adalah hari libur. Aku bangun membasuh wajahku dan menggosok gigiku.
TOK! TOK!
“Jongin-ah! Bangun! Sudah pagi! Kau mau tidur sampai kapan huh?” teriakku didepan pintu Jongin. Tetapi.. tidak ada jawaban.
TOK! TOK!
Kali ini aku mengetuk lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Setelah beberapa menit menunggu, aku memberanikan diri untuk memasuki kamarnya.
KLEK
Ku buka pintu kamarnya dengan perlahan, dan berjalan memasukinya. Aku mencari di setiap sudut kamarnya.
Tapi aku tidak menemukannya.
“Jongin-aaah!!!” kali ini aku berteriak memanggil namanya.
Tapi tetap… tidak ada jawaban.
“JONGIN-AAAH!!!” aku berteriak sekeras-kerasnya. Berharap dia akan menyahut membalas teriakanku.
Masih tidak ada jawaban.
Aku terus bertanya-tanya dalam diriku. Dimana dia? Mengapa ia pergi begitu saja?

                Tiba-tiba air mataku menetes. Nampaknya aku tidak bisa berbuat apa-apa tanpanya. Aku tertunduk, kurasakan kakiku sudah tidak punya kekuatan untuk menopang tunuhku dan akhirnya jatuh berlutut.
“Jongin-ah! Dimana kau!?? Mengapa kau meninggalkan aku sendiri begitu saja!??” aku berteriak sambil sesekali terisak. Kami baru saja mengalami kenangan menyenangkan di hutan Areum…
“tunggu! Hutan Areum! Pasti dia di sana!” teriakku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari keluar rumahku dan menyetop taksi.
“hutan Areum! Secepatnya ahjussi!” ujarku setengah teriak begitu berada di dalam taksi. Supir taksi yang kaget mendengarku tiba-tiba saja berteriak langsung mengiyakan dengan cepat.

                Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan hutan Areum. Aku membayar taksi tanpa memperdulikan kembaliannya. Aku sudah tidak peduli. Aku langsung berlari sambil terisak melewati ‘terowongan ranting’ yang kemarin kami lalui. Aku sudah tidak peduli dengan ranting-ranting yang menampar lengan, paha bahkan wajahku. Aku hanya berlari secepat mungkin.
“Jongin-aaaah!” teriakku begitu sampai di hutan pinus berwarna emas.
Hanya raungan ku yang dapat terdengar saat ini. Aku tidak peduli.
Tetap tidak ada jawaban.
Suaraku mulai habis, tenggorokanku sakit karena berteriak, tetapi tidak ada tanda tanda bahwa Jongin berada di sini.
Aku lalu berlari menuju semak dan berhasil membukanya. Sesampai di makam para manusia serigala, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh makam. Tetapi mataku langsung tertuju pada mawar biru kehitaman milik eomma Jongin. Tiba-tiba setitik cahaya berwarna ungu melayang ke arahku lalu melayang menuju ke arah tebing. Aku berjalan tergopoh-gopoh mengikuti cahaya tersebut.ketika aku sampai di ujung tebing, aku melihat ada tubuh yang tergeletak tidak bernyawa di tanah.
“Seulrin-ah? Seyung oppa??” gumamku dengan perasaan heran dan kaget yang berputar putar di kepalaku. Dan saat aku berbalik, aku melihat seorang lelaki tak berdaya tergeletak di samping pohon. Air mataku mengalir sangat deras kali ini. Aku mengahmpirinya dengan penampilan yang sangat berantakan. Wajah, lengan dan paha penuh dengan  goresan. Serta pakaian ku yang sekarang ini terlihat sangat kumal. Tubuhku kehilangan keseimbangan dan terjatuh di samping Jongin. Dengan seluruh tenagaku yang tersisa, aku mencoba untuk duduk dan kepalanya ku baringkan di atas pahaku. Aku mengusap wajahnya, air mataku menetes dan jatuh di pipi Jongin.
“Jongin-ah,, bangun!! Jongin-aah!!” teriakku histeris. Kepalaku sangat sakit. Tapi aku tidak peduli, saat ini aku hanya ingin Jongin ku kembali.

“Minjung-ah.. jangan menangis…” suara itu terdengar sangat lembut dan membuat tangisanku semakin menjadi-jadi.
“Jongin-ah? Kau.. masih hidup.. kau masih hidup!!” teriakku seraya memeluknya dengan erat.
“tidak.. Minjung-ah.. aku akan pergi..” ucapnya dengan senyuman tipis di bibirnya. Tega sekali dia mengatakan itu, aku tidak ingin Jongin ku pergi! Aku ingin Jongin ku berada di sisiku selamanya. Tangisanku semakin meledak… aku tidak bisa berkata-kata lagi, suaraku sudah tidak bisa keluar. Tenggorokanku sangat sakit.
“ini…” ujar Jongin lirih. Ia menjulurkan tangannya dan memberikan sepasang anting berbentuk kepala serigala kepadaku.
“ini akan menjelaskan semuanya padamu… aku mohon kau dengarkan baik-baik… dan… jangan lupakan aku..”jelasnya lalu mengecup bibirku untuk terakhir kalinya.

Setelah menciumku, tubuh Jongin berubah menjadi butiran debu dan diterbangkan oleh angin. Debu yang tersisa di tanganku aku genggam erat. Air mata ku jatuh membasahi debu itu dan seketika muncul cahaya berwarna ungu gelap mirip dengan cahaya yang tadi mengantarku ke sini. Tanpa perintah, aku langsung mengikuti cahaya itu.

Cahaya ungu itu membawaku ke makam para manusia serigala. Lebih tepatnya, makam eomma Jongin. Cahaya itu masuk ke dalam tanah di samping mawar eomma Jongin. Dan tidak lama kemudian, muncul tanaman mawar berwarna sama dengan warna mawar yang berada di sampingnya, biru kehitaman. Aku terisak di depan kedua tanaman mawar itu.

---------------------

BRAK!
                Aku menutup pintu taksi dengan pelan. Ku rogoh kantung celanaku dan mengambil anting yang tadi diberikan oleh Jongin, lalu memasangnya di telingaku.
“annyeong~ Minjung-ah! Ini aku, Jongin!hmm.. kau pasti heran dengan keberadaan Seulrin dan Seyung di tempat itu kan. Itu karena mereka adalah manusia serigala suruhan tetua yang telah kuceritakan sebelumnya. Ternyata mereka belum sepenuhnya melupakan keluargaku. Oh, ya salam untuk appa ku ya. Dan… kau jangan bersedih terus.. aku akan selalu bersamamu.. janji.. lalu….
Saranghaeyo~”



THE END~

Yehet! Yehet!! Akhirnya selesai jugaa!! Mian yeth, kalo ceritanya kurang kena.. kurang.. gimana gitu yeth.. *gaje

Kritik dan saran bakalan berguna banget.
Jadi.. jangan jadi siders yeth~ :3
Makasih banyak yang sudah baca FF ku yang super gaje~

Comments

Popular Posts