[CERPEN] Semangat yang Membuat Malu
Kalo ini ku tulis sebagai tugas akhir Bahasa Indonesia waktu kelas 3 SMP dulu, dan cerita ini berdasarkan pengalaman nyata waktu masih mondok di pesantren dulu~
namanya juga ga keubah,,, *sorry tmen2 xD*
---------------------------------------------------------------------------------
“Nis, kamu mau ikut nggak nih?” ajak
Wafiqa, teman kamarku yang sudah berada di ambang pintu bersama Putri, dan Si
Kembar Dhila Fira.
“Ha? Memangnya kalian mau kemana?”
tanyaku mengalihkan pandangan dari novel yang baru terbaca setengah buku yang
kupegang.
“Hari ini kan hari pertama buat
santri baru. Di luar pasti ramai dan pasti banyak yang butuh bantuan” jawab
Putri berkacak pinggang dan menggeleng melihatku.
“Oh, iya. Hehe, maaf lah, aku lupa.
Tunggu ya, aku ganti pakaian dulu” ujarku sambil memberi pembatas pada halaman
yang tengah kubaca lalu menutup dan menyimpannya di rak buku ku. Setelah itu
dengan cepat aku mengganti pakaian, mengambil sandal Swallow merah yang menjadi
sandal wajib untuk angkatan kami. Jadi semua teman seangkatan kami memakai
sandal yang sama. Setelah semua siap, kami lalu berjalan keluar asrama.
“Waw, ramai sekali ya. Orang tua
santri pada sibuk semua” ujarku kagum dengan semangat para santri baru, dan
jangan lupa orang tuanya.
“Eh, kalian mau bantu tidak? Kita
bantu angkut kasur saja. Kalu tidak salah, kita juga dulu dibantu senior angkut
kasur ke kamar kita kan?” Tawar Wafiqa dan di balas dengan anggukan setuju dari
Putri, Dhila, Fhira, dan juga aku.
Kami berjalan menuju ruang tempat
dimana kasur-kasur, dan bantal untuk santri baru disimpan. Sambil berjalan,
kami bernostalgia tentang hari pertama kami di pondok. Saat senior kami
membantu mengangkut kasur menuju kamar kami, ayah, ibu, ataupun sanak keluarga
juga tak jarang datang membantu mengangkat barang-barang keperluan sekolah dan
keperluan sehari-hari seperti buku, rak buku, pakaian sekolah dan pakaian
sehari-hari, alat mandi, ember, timba, gantungan baju, dan masih banyak lagi
yang menjadi keperluan kami. Satu hari itu dipakai membereskan kamar dan tempat
tidur masing-masing. Oh ya, satu kamar itu biasanya di tinggali minimal sepuluh
santri dan maksimal dua belas santri, dengan ranjang kayu susun, agar lebih
hemat ruang.
Kami terus mengobrol sampai akhirnya
kami sampai di ruangan tempat kasur, dan bantal, disimpan. Begitu masuk, kami
langsung disuguhi pemandangan kasur yang bertumpuk-tumpuk memenuhi ruangan
tersebut. Juga ada bantal dan seprei di ruangan lain yang berdekatan dengan
ruangan tersebut. Kami tidak lupa menawarkan diri untuk membantu pada Ibu
Nurmi, guru yang mengurus semua perlengkapan santri baru ini. Dan tentu saja Bu
Nurmi menerima dengan senang hati tawaran kami.
“Kalau begitu, Fhira dan Dhila,
kalian angkat kasur untuk santri yang ini.” perintah Ibu Nurmi seraya menunjuk
seorang santri yang sedang berdiri di depannya, sedang mencatat sesuatu.
“Oh, baik Bu!” jawab Fhira dan Dhila
dengan bersemangat.
“Tante, asrama berapa dan kamar
berapa?” tanya Fhira setelah mengambilkan kasur, sedangkan bantal dibawa
sendiri oleh santri tersebut.
“Hmm, asrama lima, lantai satu,
kamar dua,” ujar santri tersebut menggantikan ibunya berbicara.
“Oh, ok deh. Dhila, ayo cepat!” Ujar
Fhira memanggil adiknya, Dhila. Lalu mereka pun lenyap dari pandanganku.
“Kalian! Nisa dan Wafiqa tolong
antarkan kasur untuk ibu ini,” ujar Bu Nurmi memebri perintah. Dengan cepat aku
mengambilkan kasur dan segera menanyakan ‘alamat’ dari kasur ini.
“Dik, asrama berapa dik?” tanyaku
kepada santri pemilik kasur tersebut.
“Oh, asrama enam, lantai dua, kamar
dua belas kak,” jawab santri tersebut dengan senyum di bibirnya. Kelihatannya
adik yang satu ini senang sekali dengan kehidupan barunya di sini.
“Wah! Nisa! Asrama enam itu kan
paling ujung! Dekat asrama kita kan? Lantai dua pula! Dan… kamar dua belas
kalau tidak salah, kamar paling ujung Nis!” bisik Wafiqa dengan suara yang agak
keras sehingga mungkin santri tersebut bisa mendengarnya.
“Hush! Kau jangan mengeluh begitu!
Ingat, senior kita juga dulu mengantarkan sampai asrama kita kan? Asrama kita
juga paling ujung! Dan lagi, kalau kamu tidak ikhlas begitu, perbuatanmu ini
akan sia-sia loh.” Balasku dengan sedikit berbisik. Setelah aku memberitahu
itu, entah setan mana yang merasuki Wafiqa. Dia jadi kelihatan sangat
bersemangat.
“Baiklah! Sekarang aku sangat bersemangat!
Ayo!” ujarnya setengah teriak.
“Hush! Jangan berteriak! Nanti kalau
kakak kelas mendengarnya bagaimana? Kita bisa dihukum!” ujarku mengingatkan.
Memang peraturan di sini sangat ketat, berteriak seperti yang Wafiqa lakukan
tadi dilarang, apalagi kalau berteriaknya tidak menggunakan bahasa Inggris atau
Arab. Sanksi nya adalah deretan kosakata Inggris Arab siap untuk di hafal.
“Berangkat sekarang kak?” tanya
santri pemilik kasur tersebut tidak sabar.
“Oh, iya dik, hehe maaf kakak
melamun” ujarku tersipu malu.
Seperti yang Wafiqa bilang tadi, asrama enam itu berada di
depan asrama kami yaitu asrama empat dimana asrama tersebut berada paling
ujung. Kami harus melewati asrama tujuh, asrama satu, asrama dua, dan asrama
lima dan tiga yang juga saling berhadapan.
Kami mengangkut kasur tersebut dengan bersemangat. Aku
memegang bagian depan dan Wafiqa memegang bagian belakang kasur. Sedangkan
santri pemilik kasur ini berjalan lumayan jauh di depan kami.
Saat kami telah berada di depan asrama dua, tiba-tiba Wafiqa
berteriak kecil, membuat kami berhenti berjalan.
“Ada apa Wafiqa?” tanyaku dengan nada penuh kekhawatiran.
“Ehm, aku tersandung batu. Dan lihat…” Wafiqa meringis lalu
menunjuk sebelah kakinya. Saat melihat kakinya, entah mengapa aku tertawa
terbahak-bahak dan langsung menutup mulutku, tersadar akan tawa ku yang bisa
saja mengundang hukuman kakak kelas. Tetapi aku tetap tertawa dengan mulutku
yang ku tutup dengan kedua tanganku.
“Hei! Kau seharusnya tidak tertawa kan!?” bentak Wafiqa
cemberut melihat tingkahku. Melihat itu, aku berusaha menahan tawaku. Membuat
wajahku terlihat aneh.
“Hehe, maaf deh. Tapi kasur ini?” ucapku menujuk kasur
pertama yang kami angkut hari ini.
“Hm, biarkan saja deh. Asrama enam sudah dekat, aku masih
bisa berjalan walaupun dengan keadaan seperti ini” ujar Wafiqa. Inilah yang aku
suka dari Wafiqa, sikap pantang menyerahnya yang kuat.
“Ok deh. Ayo semangat Wafiqa!” ujarku memberi semangat kepada
Wafiqa.
Setelah sampai di asrama enam, kami langsung menuju tangga
yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Kami melepas sandal kami dan
mengangkut kasur tersebut menuju kamar dua belas.
Setelah keluar dari asrama enam, Wafiqa langsung berlari
menuju asrama empat yang untungnya berada tepat di depan asrama enam. Dan
keluar dari asrama \dengan sandal Swallow merah yang entah dia pinjam dari
siapa.
-END-

wis jadi nisa dulu nyantri ya
ReplyDeleteiyap~~
Delete