[CERPEN] KLUB BIBLIO
Haloo! Minna!
Sudah lamaaaaaaa banget sejak terakhir kali ngepoost!
Kali ini bakalan ada cerpen yang ku buat untuk tugas Bahasa Indonesiaku!
Jadi guru Bahasa Indonesia kami nyuruh buat cerpen dalam jangka waktu 2 minggu (nyatanya ku ngerjainnya cuma semalam xD) awalnya agak susah sih nentuin tema cerpen yang bakal ku tulis. Tapi karena akhir-akhir ini ku suka baca novel nya Rick Riordan yang The Heroes of Olympus dan berkat novel itu, ku jadi tertarik belajar bahasa Yunani dan sadar kalo Bibliophile atau Bibliofilia berasal dari kata Yunani Biblio yang artinya buku dan karena ku sendiri suka buku, makanya kepikiran untuk nulis cerpen tentang sebuah klub yang anggotanya pada suka buku dengan sedikit genre misteri.
......Jadi gitu.....
Enjoy the Cerpen! wkwk
ohiya makasih buat lagunya Red Velvet di mini album Russian Roulette yang udah nemenin nulis xD
KLUB BIBLIO
Aku memperhatikan
jam tanganku yang telah menunjukkan
pukul tujuh malam. Malam ini merupakan malam terakhir dari acara festival
budaya yang diadakan sekolah kami tiap tahun. Festival budaya ini diadakan
selama tiga hari dengan Sangat meriah. Setiap kelas akan menghias ruangan
mereka sesuai dengan tema yang diberikan ketua panitia dan setiap klub bisa
dengan bebas menampilkan apa saja yang mereka ingin tampilkan.
Malam ini merupakan malam penutup dari acara festival budaya ini.
semua murid dan guru akan berkumpul di lapangan olahraga untuk menyalakan api
unggun yang besar. Aku melangkah
perlahan dengan perasaan was-was sambil menggunakan handphone untuk menerangi
jalan di depanku, berjalan menuju ruang olahraga. Beberapa jam yang lalu, aku
menemukan secarik kertas di laci mejaku yang menyuruhku datang ke ruang
olahraga saat acara penutup akan dimulai. Agak aneh memang, aku menuruti
perintah dari orang yang bahkan belum kutemui sebelumnya. Orang lain pasti akan
mengabaikannya mengira pesan tersebut hanya perbuatan orang yang kurang
kerjaan. Tapi karena sifatku yang selalu menyukai petualangan dan selalu
dipenuhi rasa ingin tahu, tidak akan mudah mengabaikan ‘Surat Tantangan’ itu.
Begitu sampai di depan pintu ruang olahraga, aku lalu celingak
celinguk mencari seseorang yang kukenal. Tapi nihil, tidak ada seorang pun di
sini. Keadaan yang remang-remang tidak menyurutkan niatku untuk menunggu
kebenaran mengenai surat tantangan tadi. Aku memilih duduk tepat di depan pintu
ruang olahraga yang terbuka. Aku menunggu sambil membaca e-book yang aku beli
di handphone ku. Belum sampai sepuluh
menit aku membaca, tiba-tiba saja aku merasakan sepasang tangan yang bertengger
di bahu ku dengan perlahan. aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri dan terasa
hawa aneh di sekitarku. Aku berbalik secepat kilat dan belum sempat aku
berteriak, mulutku dibungkam dengan telapak tangan yang lumayan besar. Dalam
keadaan remang-remang aku melihat dua sosok laki-laki dan mataku yang basah
oleh air mata hanya bisa melotot kaget.
“Sssshh!” beberapa detik kemudian aku mulai kembali ke dunia nyata.
Penglihatanku mulai jelas dan sekarang aku melihat dua orang laki-laki yang
seumuran denganku dengan jari telunjuk tertempel di depan bibirnya, mendesis
mengisyaratkan agar aku tidak berteriak. Salah seorang diantara mereka yang
membungkam mulutku mulai menarik kembali tangannya. Mulutku hanya terkatup-katup
tidak jelas, tidak dapat mengeluarkan suara.
“Hahaha! Maafkan kami, kami hanya berusaha menyapa. Tidak kami
sangka Kau akan sekaget itu.” Ujar salah seorang di antara mereka sambil
menahan tawanya.
“Tidak sopan! Kalian mengagetkanku dan sekarang kalian malah
tertawa!” tanpa sadar suaraku meninggi, merasa tersinggung, kurasakan wajahku
memanas. Entah karena marah atau mungkin karena malu.
“Aah, maaf, maaf. Apa boleh buat soalnya wajahmu barusan kelihatan
sangat konyol.” Salah seorang diantara mereka akhirnya menyadari perbuatannya
dan meminta maaf kepadaku.
“Lupakan! Sekarang, kenapa kalian bisa ada di sini?” aku melupakan
rasa marahku –atau mungkin malu- dan melontarkan pertanyaan yang dari tadi
mengganjal di kepalaku.
“Seharusnya itu pertanyaan kami.” Ujar salah seorang dari mereka
yang kelihatan sedikit lebih dewasa dari yang satunya yang dari tadi memamerkan
deretan giginya. Sedetik kemudian aku tersadar, menebak bahwa mereka juga telah
mendapatkan ‘Surat Tantangan’.
“Mungkinkah, kalian juga mendapatkan surat tantangan!?” tebakku
sedikit berteriak karena semangat. Kemudian aku tersadar kalau keduanya
terkikik pelan.
“Surat tantangan? Maksudmu surat dengan tulisan berantakan itu?
Sepertinya penulisnya berusaha terlalu keras untuk membuatnya misterius yang
malah membuatnya terlihat konyol.” Ujarnya dengan nada meremehkan, lagi-lagi
membuatku tersinggung.
“I..iya, itu yang aku maksud. Ngomong-ngomong kita masih belum
mengenal nama masing-masing. Bagaimanapun kita sudah berbicara panjang lebar,
bahkan Kau sudah menertawaiku.” Ujarku setengah cemberut.
“Ah, benar juga. Kami adalah murid kelas satu. Kakak kelas seperti
Kau pasti tidak akan mengenal kami. Namaku Zen Arsenio, panggil Zen saja.
Sebagai tambahan, kalau saja Kau tidak menyadarinya, kami berdua saudara
kembar.” Lelaki yang baru saja memperkenalkan diri sebagai Zen itu mulai
memperkenalkan diri.
“Te..Tentu saja aku sadar!” tenggorokanku sedikit tercekat dan
menyadari bahwa aku tidak sadar sama sekali bahwa mereka itu kembar bahkan
dengan bukti yang sangat jelas di depanku.
“Kalau aku Zelo Arselio! Panggil saja Zelo! Aku adik Zen, meskipun
hanya berbeda lima menit.” Yang satu ini sikapnya sangat bertolak belakang
dengan Zen. Zelo sedikit agak nyentrik dan selalu tersenyum memamerkan giginya
yang menurutku sangatlah tidak normal. Bayangkan kau dimarahi oleh guru karena berbuat
sesuatu yang tidak bisa diampuni dan kau hanya tersenyum memamerkan deretan
gigimu. Mungkin saraf pada bibirnya ada yang rusak, entahlah. Sedangkan Zen,
pembawaan yang kalem membuatnya sedikit berwibawa, dan wajahnya yang minim
ekspresi membuatnya terlihat sedikit dingin, ia pantas menjadi kakak. Meskipun
hanya beda lima menit.
“Zen dan Zelo, sangat mudah untuk membedakan kalian.” Ujarku yang
ternyata sedikit menyinggung mereka.
“Maaf saja ya kalau kami tidak bisa memenuhi ekspektasimu mengenai
saudara kembar. Kuberitahu saja ya, tidak semua saudara kembar itu harus
memiliki wajah dan sifat yang sama” kali ini Zelo menjawab dengan wajah
cemberut. Aku kira dia hanya bisa membuat ekspresi sumringah.
“Maaf deh, maaf. Oh, iya aku Roxelliana Adara, panggil saja Elli,
murid kelas dua.” ucapku memohon maaf lalu melanjutkan memperkenalkan diri.
Setelah kami saling memperkenalkan diri, kami mulai bercakap. Mulai
dari acara TV yang ternyata kami sama-sama sukai, sampai pengalaman yang cukup
memalukan untuk diceritakan. Aku tidak menyangka sama sekali kami akan akrab
segampang ini.
“Permisi?” ujar suara seseorang. Kami bertiga terperanjat kaget.
Tidak kusangka Zen dan Zelo akan kaget seperti itu hanya karena satu kata.
Ingin rasanya aku mengejeknya, tapi hanya akan menambah masalah.
“A..aah maaf mengagetkan kalian. A..aku datang ke sini karena
mendapat surat yang menyuruhku datang ke ruang olahraga.” Seorang perempuan
dengan rambut dikepang dua dengan kacamata yang menghias matanya menghampiri
kami dan meminta maaf karena telah mengagetkan kami dengan gagap. Aku, Zen dan
Zelo lalu bertukar pandangan. Lagi-lagi surat?
“Tidak apa-apa. Justru kami yang harus meminta maaf karena telah
menganggap kamu,, emm” mulutku terasa agak kelu dan memutuskan tidak
melanjutkan kalimatku, takut ia merasa tersinggung.
“Ah, sial! Rasa penasaranku terhadap surat itu makin besar!” teriak
Zelo bersemangat.
“Kau baru saja mengumpat Zelo, itu tidak baik” tegur Zen. barusan
ia terlihat seperti seorang ibu yang menegur anaknya.
“Pertama-tama, ada baiknya kalau kau memperkenalkan dirimu. Baru
akan kami jelaskan setahu kami.” Ujarku mempersilahkan.
“A..ah, iya. Perkenalkan namaku Violita Nathania. Kalian bisa
memanggilku Vio, muird kelas tiga.” Ucapnya menyelesaikan perkenalan diri
singkat dengan suara yang sangat kecil sampai-sampai aku, Zen, dan Zelo harus
mencondongkan kepala mendekat agar dapat mendengarnya.
“Sepertinya kau memiliki penyakit gugup akut” tegur Zen dengan
ekspresi datar.
“Hei, berani sekali Kau sama kakak kelas!” tegurku tidak terima
mengingat Zen yang masih merupakan murid kelas satu.
“Kakak kelas,,, “ gumam Zelo.
“Hanya karena kalian kakak kelas bukan berarti aku harus takut kan.
Lagipula aku mengatakan yang sebenarnya.” Tukas Zelo. Okay, sekarang Zelo sudah
terlihat sangat berbeda dengan Zelo yang pertama kali aku temui. Sepertinya dia
memiliki kepribadian ganda.
“He..hentikan! tidak apa-apa. Ini adalah pertama kalinya aku
berbicara dengan banyak orang, makanya aku se..sedikit gugup” balas Vio.
Lagi-lagi aku, Zen dan Zelo bertukar pandang. Banyak orang?
Mau tidak mau kami harus memaklumi sikap Vio dan saling memperkenalkan
diri masing-masing. Kami pun melanjutkan percakapan yang didominasi oleh Zelo.
Tak lama setelah itu kami kembali mendengar suara seseorang.
“Selamat malam, makhluk-makhluk rendahan yang datang karena
undangan tidak jelas dari seseorang yang bahkan kalian belum temui sebelumnya”
kali ini kami tidak lagi kaget dengan kedatangan seseorang. Entah karena kami
sudah capek kaget atau karena kalimat yang baru saja dilontarkan lelaki narsis
itu sama sekali tidak lucu.
“Heh, kau sendiri datang ke sini karena surat itu kan?” dengus Zen
dengan tatapan tajam.
“Hei, hei bukankah itu sedikit kasar untuk orang yang baru kau
temui? Lagipula aku hanya ingin melihat siapa saja makhluk rendahan yang
termakan surat itu.” Ujar seorang lelaki bertampang narsis dengan rambut
tersisir rapi dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
“Aku mengenalmu. Kau adalah Lox Bratajaya, seorang konglomerat yang
terdampar di sekolah orang biasa ini. seseorang yang sangat narsis dan juga
bodoh. Semua murid kelas satu di sekolah ini tahu tentangmu. Terima kasih
kepada mobil mewah yang kau kendarai dan pelayan-pelayan dengan pakaian konyol
yang mengantarmu ke sekolah.” Zen bercerita panjang lebar dengan ekspresi muak.
“Aku memang terkenal. Semua itu karena ketampananku dan harta yang
aku miliki…”
“STOOOOP!!”
Tiba-tiba saja lampu di ruang olahraga menyala dan otomatis kami
semua mengernyit menghindari cahaya lampu yang membuat mata kami silau, kecuali
si Lox yang hanya tersenyum bodoh. Aku heran mengapa ia bisa tahan dengan
cahaya sesilau ini. Aku bersyukur setidaknya seseorang akhirnya bisa memotong
kata-kata Lox yang jika ia lanjutkan akan menghancurkan dinding kesabaranku.
“Siapa yang berani memotong perkenalan diriku!?” teriak Lox yang
hanya dibalas dengan pantulan suaranya sendiri.
“Baiklah, kalian harus berhenti berkelahi dan kusarankan agar
kalian mulai saling mengerti satu sama lain!” ujar suara yang memenuhi ruangan
olahraga. Wujudnya yang tidak kunjung muncul membuatku agak sedikit ngeri.
Mendengar perintah tersebut, kami berlima otomatis bertukar pandang dengan
bingung.
“Ini kedengaran seru! Seperti komik As the Gods Will karya
Kaneshiro Muneyuki dan Fujimura Akei!” tiba-tiba saja Zelo berteriak
kegirangan.
“Eh? Bukankah itu komik ber-genre death game dan psikologis
itu? Yang mendapat adaptasi film itu?” ujarku mengingat film mengerikan yang
aku nonton beberapa hari yang lalu.
“Juga seperti novel Girls in the Dark karya Akiyoshi
Rikako…” gumam Zen yang ternyata didengar oleh Vio.
“Ah! Aku pernah mendengar judul itu. Tapi sama sekali tidak
tertarik karena aku hanya membaca novel ber-genre romantis.” Ujar Vio sedikit berteriak. Kali ini tanpa
gagap. Lalu hening seketika dan kami lagi-lagi saling menukar pandangan.
“Mungkinkah, alasan kita berlima dikumpulkan di sini adalah…” Zen
menghentikan ucapannya dan mengusap dagunya. Sedetik kemudian ia mengangkat
wajahnya lalu melotot kea rah kami berempat secara bergantian.
“Kau, mungkinkah kau suka membaca buku? Bagaimana dengan Kau? Kalau
Kau?” ia melontarkan pertanyaan yang sama sambil menunjuk kami bergantian. Dan
jawaban kami hanya satu.
“Ya.”
Jawaban singkat yang dapat menjelaskan mengapa kami dipanggil ke
sini.
“Benaaaar sekaaaaaaaliiii! Kalian semua memiliki sebuah kesamaan,
yaitu kalian memiliki hobi membaca buku! Kalian mencintai buku!”
Lagi-lagi suara itu bergema di seluruh ruangan olahraga, yang pada
akhirnya kuketahui bahwa suara itu berasal dari pengeras suara yang berada di
sudut ruangan yang luas itu. Sudah pasti ada seseorang di ruangan penyiaran.
BRAK!
Secara bersamaan semua pintu dan jendela yang ada di ruangan
olahraga tersebut tertutup rapat. Kami seketika panik dan berusaha membuka
pintu dan jendela secara paksa. Tapi nihil, semua jendela dan pintunya terkunci
rapat, ditambah lagi, ruangan ini kedap suara karena ruangan ini dipakai oleh
kelompok paduan suara dan tim senam sekolah yang hampir setiap hari latihan di
sini.
“Siapapun Kau, mengapa Kau melakukan ini kepada kami!?” Zen yang
memasang wajah dingin –tapi terlihat sedikit raut panik- berteriak yang
menggema di seluruh ruangan.
“Tenang saja! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Jika kalian ingin
keluar dari ruangan ini, kalian harus menyelesaikan permainan yang diberikan!”
“Permainan…” gumam Vio.
“Pe..permainan apa?” Tanya Vio. Akhirnya ia mengeluarkan suara
juga. Setelah dari tadi terdiam karena shock.
“Permainan ini sangat gampang! Bagi kalian yang memiliki hobi
membaca pasti akan dengan mudah menyelesaikan permainan ini!” tantang suara
misterius.
“Baiklah! Kami terima!” teriakan Lox mengagetkan kami semua. Ada
apa dengannya? Dia mungkin sudah gila.
“Kenapa Kau mengambil keputusan sendiri!?” Zelo mendekati Lox
dengan raut wajah jengkel dan menarik kerah baju Lox yang hanya nyengir. Memang
menjengkelkan.
“Sudah! Kalian berdua berhenti! Mau tidak mau kita harus menerima
tantangan itu atau kita tidak pernah keluar dari ruangan ini! Hari sudah malam!
Semakin cepat kita menyelesaikan permainannya semakin bagus!” aku berteriak
sekencang-kencangnya. Mengagetkan Zelo dan Lox. Aku sudah tidak tahan dengan
perasaan tertekan seperti sekarang ini. Setelah itu semuanya memasang ekspresi
menerima permainan tersebut.
“Kerja bagus Elli! Permainan ini disebut dengan Tebak Judul” Ujar
suara misterius. Sialan, dari mana pula ia tahu namaku.
“Tebak judul?” ujar Zen memastikan apakah ia tidak salah dengar.
“Ya! Akan ada sepuluh kutipan yang berasal dari berbagai buku;
novel, komik atau buku apa saja. Kalian harus menebak judul dan penulis buku
tersebut hanya dari kutipan yang diberikan.” Jelas suara misterius panjang
lebar.
“Kedengarannya menarik” ujar Lox yang dibalas dengan tatapan tajam
dari kami semua yang berhasil membungkamnya.
“Langsung saja, aku sendiri tidak berniat menahan kalian lama-lama
di sini.” Ujarnya. Kami juga tidak memiliki niat untuk tinggal di sini.
“Sebutkan judul dan penulis dari kutipan berikut ini Polisi
menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth.
“ ujar suara seorang wanita. Baiklah ini mulai mengerikan. Darimana
datangnya wanita itu.
“Azoth…” Gumam seseorang yang ternyata adalah Zen.
“Bukankah Azoth yang ada di novel misteri itu? “ tambah Lox.
“Ah, ini gampang. Judulnya adalah The Tokyo Zodiac Murders
(Detective Mitarai’s Casebook) karya Soji Shimada! Bagaimana?” jawab Zen
dan bertanya memastikan jawabannya sudah betul atau tidak.
“Betul! Sesuai dugaan! Zen si penyuka cerita misteri!” teriak suara
misterius. Nah, darimana ia bisa mengetahui fakta itu.
“Selanjutnya. Manusia selalu bertanya-tanya tentang banyak hal.
Mengapa kita bertemu, mengapa orang-orang harus berpisah, kenapa beberapa orang
tidak bisa bersama, mengapa waktu tak dapat diputar kembali. Apa alasannya, aku
tidak tahu. Tapi aku yakin, segala sesuatu beralasan. “ Lanjut suara wanita
misterius.
“Baiklah, yang tadi itu lumayan panjang” ujarku.
“Aku tahu!” tiba-tiba Vio si Rambut Kepang bersuara. Kami
menatapnya antusias.
“itu adalah kutipan dari novel berjudul Tomodachi yang
ditulis oleh Winna Efendi!” jawabnya lancar.
“Benaaaar sekaliiii! Sepertinya kita punya seorang ahli novel
romantic di sini!” teriak suara misterius heboh. Tapi suara wanita misterius
langsung lanjut membacakan kutipan-kutipan novel.
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya
jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. “
“Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye! Sebuah karya yang sangat
mengharukan!” Sedetik setelah suara wanita misterius membacakan kutipan, Lox
lalu meneriakkan jawaban dengan lantang. Benar-benar anak yang narsis.
“Benar sekaliii!! Sepertinya Kau adalah penggemar berat Tere Liye!” ujar suara misterius.
“Keindahan adalah tentang menemukan sesuatu yang cocok secara
alami. Untuk menjadi sempurna, kamu harus merasa sempurna dengan dirimu.
Hindari menjadi sesuatu yang bukan dirimu. “ suara wanita misterius
meneruskan membaca kutipan.
“Aaah! Itu adalah yang diucapkan Athena kepada Piper! Judul bukunya
adalah The Heroes of Olympus: The Lost Hero karya Rick Riordan!” teriakku
setelah suara misterius membacakan kutipan yang diucapkan oleh Athena, Sang
Dewi Kecantikan kepada anaknya, Piper dalam novel fantasy yang baru-baru ini
selesai kubaca.
“Jawaban yang benar sekali dari Elli Sang Maniak Fantasy!!” Oh
yeah, aku memang menyukai banyak genre novel terutama Fantasy.
“Sebuah rahasia membuat seorang wanita menjadi wanita”
lanjut suara wanita misterius.
“Wanita,,, menjadi wanita…” gumam Zelo tidak jelas. Aneh juga ia
memikirkan sesuatu terkait dengan wanita.
“Ah! Itu adalah perkataan yang dilontarkan Yukiko kepada Shinichi
saat mereka bertemu di dalam kereta! Judulnya adalah Detective Conan karya
Aoyama Gosho! Hahaha! Aku benar kan!??” Teriak Zelo yang sepertinya terlalu
bersemangat.
“Hahaha! Detective Conan adalah komik yang dulu sering kubaca!
Benar sekali!!” tawa suara misterius sedikit mengingatkanku pada seseorang yang
kukenal, tapi aku lupa siapa. Sudahlah! Bukan saatnya memikirkan itu! Lima
pertanyaan telah selesai dijawab dengan lancar. Tapi bukan berarti kami harus
bersantai karena masih ada lima pertanyaan lagi.
Dua puluh menit berlalu, semua pertanyaan berhasil terjawab
meskipun di akhir tadi Lox sempat salah menyebutkan penulis. Hampir saja ia
habis di tangan Zelo.
PLOK PLOK PLOK
Dari dalam ruang ganti muncul dua sosok yang bertepuk tangan
seperti sedang menonton pertunjukan sirkus. Wajah mereka berdua sumringah,
dipenuhi senyuman yang susah diartikan.
“Pak Elios!???” teriak kami berlima. Yang diteriakkan namanya hanya
tersenyum canggung bercampur dengan perasaan bersalah. Pak Guru Elios adalah
guru sastra yang mengajar di tiga tingkatan rombongan belajar. Ia pantas merasa
bersalah, telah melakukan ini terhadap muridnya.
Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik nan anggun walaupun
dengan riasan sederhana.
“Bu Donnaaaa!??” lagi-lagi kami semua bersamaan meneriakkan nama Bu
Donna. Bu donna hanya tersenyum dan memeluk kami semua. Ia merupakan seorang
guru seni yang sangat disukai oleh murid-muridnya. Selain cantik Bu Donna juga
memiliki sifat keibuan sehingga kami semua menyukainya.
Pintu dan Jendela terbuka memperlihatkan anggota klub voli dan
basket yang cengengesan melihat kami. Ada apa ini?
“Pak, jelaskan kepada kami semua apa maksud dari permainan ini?”
Tukas Zen tidak sabaran sekaligus bingung dengan semua yang terjadi malam ini.
“Baiklah, anggota klub voli dan basket, kalian boleh kembali ke
lapangan menikmati api unggun. Terima kasih atas bantuannya!” Pak Elios
mengucapkan terima kasih dan menyuruh anggota klub voli dan basket pergi.
Mereka hanya membalas dengan senyuman dan ancungan jempol.
“Ini adalah acara penyambutan kalian di Klub Biblio!” Teriak Pak
Elios sambil merentangkan tangan dan tersenyum lebar.
“Biblio, kalau tidak salah, Biblio berasal dari bahasa Yunani,
artinya buku kan? Klub Biblio, berarti Klub Buku?” tebakku yang dijawab dengan
ancungan jempol dari Pak Elios dan Bu Donna. Aku hanya bisa tersenyum bangga.
“Kecintaan kalian terhadap buku tidak boleh disia-siakan. Jadi
Bapak mengusulkan untuk membuka klub ini ke Kepala Sekolah dan beliau
menyetujuinya. Bapak lalu berkonsultasi dengan Bu Donna yang juga menyukai
buku.”
“Dan muncullah ide gila yang berhasil terlaksana barusan.” Sambung
Bu Donna sambil menahan tawanya. Begitu juga dengan Pak Elios.
“Sekarang kita mendapatkan maniak novel romantis, novel fantasy,
novel fiksi, novel misteri,, dan Lox?” Pak Elios menunjuk kami secara
bergantian dan berhenti di depan wajah Lox.
“Maaf saja ya, tulisan tangan Bapak memang jelek!” ujar Pak Elios
dengan senyum kesal dan mengacak rambut Lox yang tersisir rapi. Kami hanya bisa
tertawa menanggapi reaksi Lox yang terlihat konyol.
Hari-hari berikutnya, kami berlima akan menghabiskan waktu
bersama-sama di Klub Biblio.
Selamat datang di Klub Biblio!
END
Gimana menurut minna?? kasih kripik dan garam yaa!
Wassalam!

Comments
Post a Comment